Gambar: sampul artikel, dari Yuskianti dkk. (2019), Jurnal Wasian, lisensi CC BY-NC 4.0.
Tim peneliti dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan bersama Universitas Ahmad Dahlan mencatat 27 jenis tumbuhan herba di kawasan hutan penelitian Gunung Merapi, KHDTK Kaliurang, Yogyakarta. Dari jumlah itu, 21 jenis diketahui memiliki potensi sebagai bahan obat. Hasil penelitian ini diterbitkan di Jurnal Wasian pada 2019.
Jenis yang paling dominan adalah Centhoteca lappacea (L) Desv, dengan nilai kepentingan rata-rata 79,26 persen. Sementara jenis dengan nilai terendah adalah Fimbristylis dichotoma (L.) Vahl, yaitu 2,66 persen. Tingkat keragaman herba di kawasan ini tergolong rendah, dengan indeks keragaman 0,58 sampai 0,78. Meski begitu, tumbuhan herba tersebut telah lama dipakai sebagai obat tradisional di berbagai negara. Penelitian lain juga menunjukkan potensinya untuk mengatasi luka, gangguan saluran kemih, demam, diare, serta sebagai antioksidan, obat diabetes, dan kanker.
Menurut penelitian ini, temuan tersebut melengkapi data jenis tumbuhan di kawasan Gunung Merapi. Informasi ini juga diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya memanfaatkan dan melestarikan tumbuhan herba di kawasan tersebut, khususnya di KHDTK Kaliurang.
Sumber dan cara mengutip
Berita ini ditulis dari artikel ilmiah Diversity and Potential of Herb Vegetation in Forest Area With Special Purpose (KHDTK) Kaliurang Yogyakarta as Medicines karya Vivi Yuskianti Yuskianti, Miladiyah Hutami Saadi Miladiyah dan Trikinasih Handayani Handayani, terbit di Jurnal Wasian Vol. 6 No. 1 (2019). Artikel lengkapnya dapat dibaca gratis di situs Jurnal Wasian.
Kutip artikel aslinya (APA 7):
Yuskianti, V. Y., Miladiyah, M. H. S., & Handayani, T. H. (2019). Diversity and Potential of Herb Vegetation in Forest Area With Special Purpose (KHDTK) Kaliurang Yogyakarta as Medicines. Jurnal Wasian, 6(1), 11–26. https://doi.org/10.62142/spj7c478
Jika Anda memakai temuan penelitian ini dalam tugas, skripsi atau tulisan lain, kutip artikel aslinya di atas, bukan berita ini. Artikel asli berlisensi CC BY-NC 4.0.
No comments yet. Be the first to comment!