Dosen Program Studi Kehutanan Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) yang saat ini menempuh studi program doktoral (Doctoral Research) di School of Geography, Faculty of Environment, University of Leeds, Inggris, menjadi narasumber dalam program VOI Talk Radio Republik Indonesia (RRI) Voice of Indonesia. Dalam dialog berbahasa Inggris yang tayang pada Rabu (14/10/2026) bertajuk "Mapping Maladaptation: When Climate Adaptation Goes Wrong in Indonesia's Uplands", ia hadir mewakili pelajar Indonesia di Britania Raya melalui Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia/OISAA).
Ia memaparkan hasil risetnya tentang maladaptasi, yaitu upaya beradaptasi terhadap perubahan iklim yang justru memperburuk keadaan, baik bagi masyarakat itu sendiri, bagi wilayah lain, maupun bagi lingkungan.
Alih Guna Lahan di Hulu DAS Saddang
Penelitiannya berlokasi di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Saddang, Sulawesi Selatan. Wilayah ini curam dan dikelilingi hutan, dan dahulu petaninya menanam padi, kopi, kakao, kemiri, serta kebun campur atau agroforestri. Kini sebagian besar lahan tersebut telah berganti menjadi jagung pakan ternak. Petani yang dulu menanam pangan sendiri kini menjual jagung untuk membeli makanan.
Di lereng terjal, jagung membuat tanah terbuka sehingga rawan erosi dan longsor. Kebutuhan pupuk kimianya pun jauh lebih tinggi dibanding kakao. Dampaknya mengalir ke hilir: sedimen sungai bertambah, aliran sungai berubah, dan banjir mulai melanda desa-desa yang sebelumnya tidak pernah kebanjiran.
Persoalan Struktural, Bukan Kesalahan Petani
Ia menegaskan bahwa persoalan ini bukan kesalahan petani, melainkan persoalan struktural. Kemarau panjang akibat El Niño membuat tanaman lama gagal panen. Pada saat yang sama, program swasembada pangan sejak 2014 menyalurkan benih dan pupuk jagung secara gratis dan berulang setiap musim. Sebaliknya, bantuan untuk tanaman tahunan dan agroforestri terbatas, hanya diberikan sekali, dan harus diperoleh melalui proses proposal yang kompetitif.
Menurutnya, hal ini menjadi semakin relevan di tengah prediksi El Niño kuat tahun ini, karena banyak keluarga di perbukitan kini menghadapi kekeringan dengan jaring pengaman yang lebih sedikit. Hutan, yang dahulu menjadi sumber pangan terakhir di masa paceklik, kini juga mulai terdesak oleh jagung.
Rekomendasi dan Publikasi Ilmiah
Sebagai rekomendasi, ia mendorong agar bantuan pertanian disesuaikan dengan kondisi lokal. Di lereng curam dan sekitar hutan, bantuan untuk pohon dan kebun campur perlu dibuat mudah dan melimpah, sementara bantuan jagung dibatasi.
Sebagian temuan risetnya telah diterbitkan di jurnal internasional Land Use Policy (Elsevier) dengan judul "How institutional rule erosion shapes land use trajectories at forest margins in upland Indonesia". Artikel tersebut ditulis bersama Jon C. Lovett, Victoria Houlden, dan Steve Carver dari University of Leeds dan dapat diakses melalui https://doi.org/10.1016/j.landusepol.2026.108193.
Saat ini ia juga sedang mengembangkan perangkat pemetaan berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk mengidentifikasi wilayah berisiko tinggi mengalami maladaptasi, sebagai bahan pertimbangan bagi para pengambil kebijakan.
"Apa yang terjadi di puncak pegunungan tidak berhenti di situ. Dampaknya mengalir ke kita semua," ujarnya.
Tayangan lengkap dialog ini dapat disaksikan di kanal YouTube VoI Official:
No comments yet. Be the first to comment!