Gambar: sampul artikel, dari Yonky dan Siarudin (2021), Jurnal Wasian, lisensi CC BY-NC 4.0.
Tim peneliti dari Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Agroforestry menganalisis kelayakan finansial pola agroforestri antara tanaman auri (Acacia auriculiformis) dengan padi, kacang tanah, kacang gude, dan jagung di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Batulanteh, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Hasil penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Wasian pada 2021 ini menunjukkan pola tersebut layak dijalankan secara finansial.
Kelayakan itu tercermin dari nilai NPV sebesar Rp14.607.837, IRR 53 persen, dan BCR 1,51. Bagi pembaca umum, angka BCR di atas satu berarti manfaat yang diperoleh lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan. Pola ini menggabungkan pohon auri dengan tanaman pangan yang biasa ditanam masyarakat, sehingga lahan hutan tidak hanya menghasilkan kayu, tetapi juga bahan pangan selama pohon belum dipanen.
Temuan ini penting karena lahan hutan di Indonesia kerap menghadapi tekanan dari masyarakat sekitar yang membutuhkan lahan garapan. Menurut penelitian ini, menanam pohon bersama tanaman pangan bisa menjadi jalan tengah antara kepentingan pengelola hutan dan kebutuhan warga. Penelitian ini hanya menilai aspek finansial, sehingga hasilnya perlu dibaca sebagai gambaran kelayakan usaha, bukan jaminan keberhasilan di lapangan.
Sumber dan cara mengutip
Berita ini ditulis dari artikel ilmiah The Business Analysis of Acacia auriculiformis Agroforestry in Batulanteh Forest Management Unit, Sumbawa, West Nusa Tenggara karya Yonky Indrajaya Yonky dan Mohamad Siarudin Siarudin, terbit di Jurnal Wasian Vol. 8 No. 1 (2021). Artikel lengkapnya dapat dibaca gratis di situs Jurnal Wasian.
Kutip artikel aslinya (APA 7):
Yonky, Y. I., & Siarudin, M. S. (2021). The Business Analysis of Acacia auriculiformis Agroforestry in Batulanteh Forest Management Unit, Sumbawa, West Nusa Tenggara. Jurnal Wasian, 8(1), 25–35. https://doi.org/10.62142/a96brp48
Jika Anda memakai temuan penelitian ini dalam tugas, skripsi atau tulisan lain, kutip artikel aslinya di atas, bukan berita ini. Artikel asli berlisensi CC BY-NC 4.0.
No comments yet. Be the first to comment!