Gambar: sampul artikel, dari B dkk. (2025), Jurnal Wasian, lisensi CC BY-NC 4.0.
Tim peneliti dari Universitas Khairun menemukan bahwa laju deforestasi di Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, memuncak pada 2014-2015. Penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Wasian ini menggunakan data remote sensing dari Global Forest Change untuk memetakan perubahan tutupan hutan di wilayah tersebut antara 2001 dan 2022.
Menurut penelitian ini, Kecamatan Weda dan Maba merupakan wilayah yang paling parah mengalami deforestasi pada 2014-2017. Alih fungsi lahan hutan menjadi area tambang nikel disebut sebagai penyebab kerusakan yang cukup besar di beberapa lokasi. Pada periode 2001-2013, rata-rata kehilangan hutan tercatat 1.435,43 hektare per tahun. Angka itu melonjak tajam pada 2014-2015 hingga mencapai 8.852,506 hektare, sebelum mulai menurun pada 2016 dan 2017.
Temuan ini penting bagi masyarakat sekitar hutan dan pemerintah daerah di Halmahera Tengah. Pola perubahan tutupan lahan yang dipicu kebutuhan manusia, terutama ekspansi tambang, menunjukkan bahwa tekanan terhadap hutan tidak hanya datang dari penebangan, tetapi juga dari pembukaan lahan untuk industri ekstraktif. Data semacam ini bisa menjadi dasar bagi penyusunan kebijakan tata guna lahan yang lebih menjaga kawasan hutan di Maluku Utara.
Sumber dan cara mengutip
Berita ini ditulis dari artikel ilmiah Deforestation Trends and Drivers in Central Halmahera Regency karya Sabaruddin B, Andy Kurniawan dan Nurfadhilah Arif, terbit di Jurnal Wasian Vol. 11 No. 1 (2025). Artikel lengkapnya dapat dibaca gratis di situs Jurnal Wasian.
Kutip artikel aslinya (APA 7):
B, S., Kurniawan, A., & Arif, N. (2025). Deforestation Trends and Drivers in Central Halmahera Regency. Jurnal Wasian, 11(1), 15–19. https://doi.org/10.62142/t6n6m231
Jika Anda memakai temuan penelitian ini dalam tugas, skripsi atau tulisan lain, kutip artikel aslinya di atas, bukan berita ini. Artikel asli berlisensi CC BY-NC 4.0.
No comments yet. Be the first to comment!