Gambar: sampul artikel, dari Is'ad Nabilah dan Mustari (2026), Jurnal Wasian, lisensi CC BY 4.0.
Tim peneliti dari IPB University menemukan 30 jenis tumbuhan pakan tapir Sumatera (Tapirus indicus) di Rawa Bunder, Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Penelitian yang dilakukan Jihan Is'ad Nabilah dan Abdul Haris Mustari ini menyoroti ketersediaan pakan sebagai kunci kelangsungan hidup satwa yang dilindungi tersebut. Tapir Sumatera berstatus Endangered menurut IUCN dan termasuk dalam Appendix I CITES.
Dari 30 jenis tumbuhan dari 24 famili itu, senggani (Melastoma malabathricum) dan berasan (Symplocos stenosepala) adalah yang paling sering dimakan, masing-masing dengan frekuensi 38,10% dan 28,57% berdasarkan jejak makan yang ditemukan. Keduanya saling melengkapi. Senggani mengandung protein kasar tertinggi, yaitu 13,82%, sedangkan berasan memiliki serat kasar terendah, 21,99%, yang cocok untuk pencernaan tapir. Sebagian besar tumbuhan pakan, 12 jenis, menyebar dalam pola mengelompok.
Penelitian ini juga menemukan biji utuh dalam kotoran tapir. Temuan itu menegaskan peran tapir Sumatera sebagai penyebar biji di Taman Nasional Way Kambas. Bagi pengelola kawasan, data jenis dan sebaran pakan ini dapat menjadi dasar penyusunan strategi pemulihan habitat, terutama di area restorasi seperti Rawa Bunder yang memiliki hutan rawa, hutan dataran rendah, dan padang rumput.
Sumber dan cara mengutip
Berita ini ditulis dari artikel ilmiah Composition, Distribution, and Diet of Malayan Tapir (Tapirus indicus) in Way Kambas National Park karya Jihan Is'ad Nabilah dan Abdul Haris Mustari, terbit di Jurnal Wasian Vol. 13 No. 02 (2026). Artikel lengkapnya dapat dibaca gratis di situs Jurnal Wasian.
Kutip artikel aslinya (APA 7):
Is'ad Nabilah, J., & Mustari, A. H. (2026). Composition, Distribution, and Diet of Malayan Tapir (Tapirus indicus) in Way Kambas National Park. Jurnal Wasian, 13(02), 45–55. https://doi.org/10.62142/6j33yt20
Jika Anda memakai temuan penelitian ini dalam tugas, skripsi atau tulisan lain, kutip artikel aslinya di atas, bukan berita ini. Artikel asli berlisensi CC BY 4.0.
No comments yet. Be the first to comment!