Gambar: sampul artikel, dari Endah dan Benyamin (2019), Jurnal Wasian, lisensi CC BY-NC 4.0.
Tim peneliti dari Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Agroforestry mencatat kepadatan gulma pada agroforestri malapari (Pongamia pinnata) lebih rendah dibandingkan lahan kosong yang tidak ditanami. Penelitian dilakukan di Desa Patutrejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo. Hasilnya diterbitkan di Jurnal Wasian pada 2019.
Kepadatan gulma di agroforestri malapari tercatat 29,95, sedangkan di lahan kosong 54,17. Jenis gulma yang paling dominan di kedua lokasi adalah Eulalia amaura, dengan Indeks Nilai Penting 36,40 persen di agroforestri dan 43,39 persen di lahan kosong. Menurut penelitian ini, Eulalia amaura merupakan gulma pionir yang tumbuh cepat sehingga perlu dipantau dan dikendalikan agar populasinya tidak merugikan secara ekonomi.
Bagi petani dan pengelola hutan, temuan ini menunjukkan bahwa menanam malapari dalam sistem agroforestri dapat menekan kepadatan gulma dibandingkan membiarkan lahan kosong. Namun, pengawasan terhadap Eulalia amaura tetap diperlukan karena jenis ini mudah berkembang.
Sumber dan cara mengutip
Berita ini ditulis dari artikel ilmiah Weed Density and Dominant Weed Species in Malapari (Pongamia pinnata (L.) Pierre) Agroforestry karya Endah Suhaendah Endah dan Benyamin Dendang Benyamin, terbit di Jurnal Wasian Vol. 6 No. 1 (2019). Artikel lengkapnya dapat dibaca gratis di situs Jurnal Wasian.
Kutip artikel aslinya (APA 7):
Endah, E. S., & Benyamin, B. D. (2019). Weed Density and Dominant Weed Species in Malapari (Pongamia pinnata (L.) Pierre) Agroforestry. Jurnal Wasian, 6(1), 37–43. https://doi.org/10.62142/xm15tq83
Jika Anda memakai temuan penelitian ini dalam tugas, skripsi atau tulisan lain, kutip artikel aslinya di atas, bukan berita ini. Artikel asli berlisensi CC BY-NC 4.0.
No comments yet. Be the first to comment!