Gambar: sampul artikel, dari Ridwan dkk. (2018), Jurnal Wasian, lisensi CC BY-NC 4.0.
Tim peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Kualitas dan Laboratorium Lingkungan mencatat 46 jenis jamur makro dari 23 famili di Taman Nasional Kelimutu, Nusa Tenggara Timur. Penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Wasian pada 2018 ini menyusuri lima jalur di ketinggian 1.000 sampai 1.700 meter di atas permukaan laut. Jamur makro adalah jamur yang tubuh buahnya bisa dilihat langsung dengan mata, seperti jamur payung dan jamur kayu.
Menurut penelitian ini, sebagian jenis jamur tersebut berpotensi dibudidayakan sebagai bahan pangan dan bahan obat. Tim peneliti juga mencatat bahwa jamur-jamur ini tumbuh pada kisaran ketinggian sekitar 1.045 sampai 1.616 meter di atas permukaan laut. Sebaran yang terbatas pada ketinggian itu membuat keberadaan jamur makro menjadi salah satu ciri khas kawasan Kelimutu.
Bagi masyarakat sekitar hutan dan pengelola taman nasional, daftar jenis ini bisa menjadi bahan awal untuk mengenali jamur bernilai guna. Namun penelitian ini baru tahap identifikasi jenis, belum menguji budidaya maupun khasiatnya. Karena itu, pemanfaatan jamur di kawasan Kelimutu perlu dilakukan hati-hati agar tidak mengganggu jenis yang tumbuh liar di hutan.
Sumber dan cara mengutip
Berita ini ditulis dari artikel ilmiah Macroscopic Fungi Species in Kelimutu National Park, East Nusa Tenggara karya Ridwan Fauzi Ridwan, Muhamad Yusup Hidayat Hidayat dan Grace Serepina Saragih Grace, terbit di Jurnal Wasian Vol. 5 No. 2 (2018). Artikel lengkapnya dapat dibaca gratis di situs Jurnal Wasian.
Kutip artikel aslinya (APA 7):
Ridwan, R. F., Hidayat, M. Y. H., & Grace, G. S. S. (2018). Macroscopic Fungi Species in Kelimutu National Park, East Nusa Tenggara. Jurnal Wasian, 5(2), 67–78. https://doi.org/10.62142/4dx06587
Jika Anda memakai temuan penelitian ini dalam tugas, skripsi atau tulisan lain, kutip artikel aslinya di atas, bukan berita ini. Artikel asli berlisensi CC BY-NC 4.0.
No comments yet. Be the first to comment!