Gambar: sampul artikel, dari Kuswandi (2016), Jurnal Wasian, lisensi CC BY-NC 4.0.
Tim peneliti dari Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Manokwari menyusun model untuk menaksir volume kayu jenis komersial di areal konsesi PT Wapoga Mutiara Timber, Kabupaten Sarmi, Papua. Penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Wasian pada 2016 ini berangkat dari kebutuhan pengelola hutan akan alat ukur yang tepat dan bisa diandalkan saat merencanakan pemanfaatan hutan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa diameter dan panjang batang pohon tidak berhubungan erat. Angka keeratan hubungan keduanya hanya 6,7 persen, sehingga panjang batang saja tidak bisa dipakai untuk menduga isi kayu. Dari sejumlah persamaan yang diuji, model terbaik untuk menaksir volume batang pohon adalah Log V = -3,34 + 2,16 log d, dengan d adalah diameter pohon. Model inilah yang lolos uji validasi di areal konsesi tersebut.
Bagi pengelola hutan dan masyarakat sekitar hutan, taksiran volume kayu yang lebih akurat membantu menghitung potensi tegakan sebelum penebangan dilakukan. Perencanaan yang berbasis data seperti ini penting agar pemanfaatan kayu tidak melampaui kemampuan hutan untuk pulih.
Sumber dan cara mengutip
Berita ini ditulis dari artikel ilmiah Timber Volume Estimation Model for Merchantable Tree Species in Sarmi Regency, Papua karya Relawan Kuswandi Kuswandi, terbit di Jurnal Wasian Vol. 3 No. 2 (2016). Artikel lengkapnya dapat dibaca gratis di situs Jurnal Wasian.
Kutip artikel aslinya (APA 7):
Kuswandi, R. K. (2016). Timber Volume Estimation Model for Merchantable Tree Species in Sarmi Regency, Papua. Jurnal Wasian, 3(2), 91–96. https://doi.org/10.62142/j0s0rr53
Jika Anda memakai temuan penelitian ini dalam tugas, skripsi atau tulisan lain, kutip artikel aslinya di atas, bukan berita ini. Artikel asli berlisensi CC BY-NC 4.0.
No comments yet. Be the first to comment!