Gambar: sampul artikel, dari Relawan dan Julius (2019), Jurnal Wasian, lisensi CC BY-NC 4.0.
Tim peneliti dari Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Manokwari mencatat pertumbuhan diameter pohon sisa di hutan bekas tebangan selektif di Papua lebih lambat dari yang diperkirakan. Penelitian di tiga konsesi hutan—PT Tunas Timber Lestari (TTL), PT Wapoga Mutiara Timber (WMT), dan PT Manokwari Mandiri Lestari (MML)—menemukan riap diameter kelompok jenis komersial berturut-turut 0,56 cm per tahun, 0,59 cm per tahun, dan 0,65 cm per tahun. Angka ini berada di bawah asumsi riap dalam sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI) sebesar 1,00 cm per tahun.
Pengukuran dilakukan setiap tahun selama 6–9 tahun pada tiga petak permanen seluas 1 hektare di masing-masing konsesi. Pola sebaran riap menurut kelas diameter berbeda antar lokasi. Di PT MML dan WMT, riap cenderung meningkat seiring bertambahnya diameter pohon. Sebaliknya, di PT TTL riap justru menurun pada kelas diameter yang lebih besar.
Menurut penelitian yang diterbitkan di Jurnal Wasian ini, informasi riap diameter penting untuk menyusun resep silvikultur dalam pengelolaan hutan lestari. Karena pertumbuhan pohon sisa lebih lambat dari asumsi TPTI, perencanaan daur tebang dan penentuan batas diameter tebang perlu mempertimbangkan kondisi riil di lapangan agar hutan bekas tebangan di Papua tetap produktif dan berkelanjutan.
Sumber dan cara mengutip
Berita ini ditulis dari artikel ilmiah Diameter Increment of Remnant Stands in Logged-Over Forest in Papua karya relawan kuswandi Relawan dan Julius Dwi Nugroho Julius, terbit di Jurnal Wasian Vol. 6 No. 2 (2019). Artikel lengkapnya dapat dibaca gratis di situs Jurnal Wasian.
Kutip artikel aslinya (APA 7):
Relawan, R. K., & Julius, J. D. N. (2019). Diameter Increment of Remnant Stands in Logged-Over Forest in Papua. Jurnal Wasian, 6(2), 125–133. https://doi.org/10.62142/pajzdm27
Jika Anda memakai temuan penelitian ini dalam tugas, skripsi atau tulisan lain, kutip artikel aslinya di atas, bukan berita ini. Artikel asli berlisensi CC BY-NC 4.0.
No comments yet. Be the first to comment!