Kehutanan UNISMUH Logo
CTRL D
Forestry Department Office
Jul 03, 2020 · Research · 1 min read
Anyaman Bambu vs Produk Non-Anyaman: Mana yang Lebih Menguntungkan Perajin Tasikmalaya?
1024 views
0 comments
0 likes

Anyaman Bambu vs Produk Non-Anyaman: Mana yang Lebih Menguntungkan Perajin Tasikmalaya?

Penelitian di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, menghitung nilai tambah produk bambu. Produk non-anyaman memberi nilai tambah jauh lebih besar, tetapi anyaman lebih mudah dipasarkan.

Gambar: sampul artikel, dari Tri dkk. (2020), Jurnal Wasian, lisensi CC BY-NC 4.0.

Tim peneliti dari Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Agroforestry menelaah pengolahan dan nilai tambah bambu di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Hasilnya, bambu yang diolah menjadi kerajinan memberi nilai tambah jauh lebih besar dibanding menjualnya dalam bentuk batang. Penelitian ini diterbitkan di Jurnal Wasian pada 2020.

Masyarakat setempat mengolah bambu menjadi dua kelompok produk. Produk anyaman antara lain ayakan, boboko, haseupan, hihid, nyiru, pipiti, keranjang piknik, dan parcel. Adapun produk non-anyaman mencakup celengan, gantungan kunci, gelas, jam dinding, kap lampu, kotak undangan, mangkuk, cangkir, bingkai, teko, kotak surat, dan kotak tisu. Menurut penelitian ini, rata-rata nilai tambah produk anyaman sekitar Rp131.197, sedangkan produk non-anyaman mencapai Rp1.439.742. Artinya, nilai tambah produk non-anyaman jauh lebih tinggi.

Meski begitu, usaha anyaman untuk produk rumah tangga lebih banyak digeluti perajin karena pasarnya sudah terbentuk, stabil, dan jangkauannya lebih luas. Sebaliknya, pasar produk non-anyaman lebih kecil dan khusus. Satu batang bambu hanya dihargai Rp10.000 sampai Rp50.000, sehingga penelitian ini menyarankan bambu dijual dalam bentuk produk olahan, bukan bahan mentah. Bagi masyarakat sekitar hutan, temuan ini menegaskan bahwa pengolahan bambu menjadi kerajinan dapat menjadi sumber penghasilan yang lebih baik.

Sumber dan cara mengutip

Berita ini ditulis dari artikel ilmiah Processing and Added Value of Bamboo in Tasikmalaya, West Java karya Tri Sulistyati Widyaningsih Tri, Eva Fauziyah Eva dan Devy Priambodo Kuswantoro Devy, terbit di Jurnal Wasian Vol. 7 No. 1 (2020). Artikel lengkapnya dapat dibaca gratis di situs Jurnal Wasian.

Kutip artikel aslinya (APA 7):

Tri, T. S. W., Eva, E. F., & Devy, D. P. K. (2020). Processing and Added Value of Bamboo in Tasikmalaya, West Java. Jurnal Wasian, 7(1), 51–63. https://doi.org/10.62142/grxa7t25

Jika Anda memakai temuan penelitian ini dalam tugas, skripsi atau tulisan lain, kutip artikel aslinya di atas, bukan berita ini. Artikel asli berlisensi CC BY-NC 4.0.

Share this post
Comments (0)
Please sign in to leave a comment.

No comments yet. Be the first to comment!

About the Author
Forestry Department Office
Share This Post

Theme Customization

Layout:
Vertical
Horizontal
Semi Box
Content Width:
Default
Box
Layout Direction:
LTR
RTL
Layout Mode:
Light
Dark
System
Sidebar Size:
Default
Medium
Icon
Icon hover
Sidebar Color:
Light
Dark