Gambar: sampul artikel, dari Fajar dan Beny (2020), Jurnal Wasian, lisensi CC BY-NC 4.0.
Tim peneliti dari Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Banjarbaru menguji empat bahan alami untuk mengendalikan siput Achatina fulica (Ferussac, 1821) yang menyerang bibit nyawai (Ficus variegata). Hasil penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Wasian pada 2020 itu menunjukkan ekstrak umbi gadung (Discorea hispida) paling toksik dengan tingkat kematian siput mencapai 75 persen.
Selain gadung, tim menguji ekstrak sembung (Blumea balsamifera), tuba (Derris eliptica), dan pinang (Areca catechu) pada berbagai konsentrasi. Ekstrak pinang justru paling lemah dengan tingkat kematian 49,75 persen. Menurut penelitian ini, ekstrak tuba, pinang, dan sembung paling efektif pada konsentrasi 50 g/l, sedangkan gadung sudah menunjukkan efek kuat pada konsentrasi 10 g/l. Nilai LC95 gadung tercatat 80,63 g/l, jauh lebih rendah dibanding pinang yang mencapai 567,75 g/l.
Serangan siput menjadi salah satu kendala dalam pengembangan nyawai karena dapat menyebabkan kematian bibit. Pemanfaatan bahan alami ini menjadi alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan dibandingkan moluskisida kimia. Namun, tim peneliti mengingatkan bahwa aplikasinya perlu mempertimbangkan tingkat serangan hama, karena efek pestisida nabati ini bekerja lebih lambat daripada moluskisida kimia.
Sumber dan cara mengutip
Berita ini ditulis dari artikel ilmiah The Plants Extract Toxicity Againts Achatina fulica (Ferussac, 1821) in Nyawai Ficus variegata (Blume) karya Fajar Lestari Fajar dan Beny Rahmanto Beny, terbit di Jurnal Wasian Vol. 7 No. 1 (2020). Artikel lengkapnya dapat dibaca gratis di situs Jurnal Wasian.
Kutip artikel aslinya (APA 7):
Fajar, F. L., & Beny, B. R. (2020). The Plants Extract Toxicity Againts Achatina fulica (Ferussac, 1821) in Nyawai Ficus variegata (Blume). Jurnal Wasian, 7(1), 39–50. https://doi.org/10.62142/1ewcvx39
Jika Anda memakai temuan penelitian ini dalam tugas, skripsi atau tulisan lain, kutip artikel aslinya di atas, bukan berita ini. Artikel asli berlisensi CC BY-NC 4.0.
No comments yet. Be the first to comment!