Gambar: sampul artikel, dari Safinah dkk. (2019), Jurnal Wasian, lisensi CC BY-NC 4.0.
Tim peneliti dari Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Banjarbaru menguji tiga bahan pembawa untuk membuat pupuk hayati dari jamur endofit Penicillium citrinum isolat P3.10. Hasilnya, gambut (peat soil) memberi hasil terbaik dibandingkan dedak padi dan serbuk gergaji. Temuan ini diterbitkan di Jurnal Wasian pada 2019.
Pengujian mencakup masa simpan hingga 70 hari. Menurut penelitian ini, gambut mampu menjaga jumlah jamur yang masih hidup paling lama, dengan masa simpan maksimal yang direkomendasikan 28 hari pada tingkat 5,62 x 105 cfu/gram. Penilaian ini mengacu pada standar pupuk hayati dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 70/Permentan/SR.140/19/2011. Keunggulan gambut disebut terkait nilai rasio C/N dan kemampuannya mempertahankan jumlah jamur yang viabel.
Bagi masyarakat sekitar hutan dan petani, temuan ini memberi petunjuk praktis: pupuk hayati berbahan jamur endofit sebaiknya dikemas dengan gambut dan tidak disimpan terlalu lama sebelum digunakan. Pupuk hayati sendiri dikenal membantu pertumbuhan tanaman, menyediakan unsur hara, mudah diserap tanaman, dan ramah lingkungan. Penelitian ini tidak menguji langsung pengaruhnya pada tanaman di lapangan, sehingga manfaatnya perlu dibuktikan lebih lanjut.
Sumber dan cara mengutip
Berita ini ditulis dari artikel ilmiah Viability of Penicillium Citrinum on Different Carrier Media as Organic Fertilizer karya Safinah Surya Hakim Safinah, Tri Wira Yuwati Yuwati, Dony Rachmandi Dony, Purwanto B Santosa Purwanto dan Dewi Alimah Dewi, terbit di Jurnal Wasian Vol. 6 No. 2 (2019). Artikel lengkapnya dapat dibaca gratis di situs Jurnal Wasian.
Kutip artikel aslinya (APA 7):
Safinah, S. S. H., Yuwati, T. W. Y., Dony, D. R., Purwanto, P. B. S., & Dewi, D. A. (2019). Viability of Penicillium Citrinum on Different Carrier Media as Organic Fertilizer. Jurnal Wasian, 6(2), 69–76. https://doi.org/10.62142/p5xcv177
Jika Anda memakai temuan penelitian ini dalam tugas, skripsi atau tulisan lain, kutip artikel aslinya di atas, bukan berita ini. Artikel asli berlisensi CC BY-NC 4.0.
No comments yet. Be the first to comment!