Gambar: sampul artikel, dari Irawan dkk. (2020), Jurnal Wasian, lisensi CC BY-NC 4.0.
Tim peneliti dari Universitas Diponegoro, Taman Nasional Wakatobi, dan Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Manado meneliti cara memperbanyak langusei (Ficus minahassae), flora endemik Sulawesi yang keberadaannya semakin terancam. Penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Wasian pada 2020 ini menguji tingkat kematangan buah dan perlakuan ekstraksi yang tepat agar biji langusei dapat berkecambah dengan baik.
Hasilnya, daya kecambah optimal diperoleh dari buah berwarna oranye-cokelat dan oranye-kemerahan, yaitu buah yang sudah matang tetapi belum terlalu lewat masak. Biji dari buah tersebut direndam dalam air selama 24 jam sebelum disemai. Perlakuan ini lebih baik dibandingkan pengeringan dengan angin selama 24 jam maupun pengeringan selama 12 jam.
Temuan ini penting karena upaya menjaga langusei selama ini terkendala pengetahuan tentang teknik pembibitan, terutama perkecambahan. Dengan panduan sederhana berupa pemilihan warna buah dan perendaman air, masyarakat sekitar hutan, penyuluh, dan pengelola kawasan dapat ikut membudidayakan langusei sehingga populasinya di alam tidak terus menyusut.
Sumber dan cara mengutip
Berita ini ditulis dari artikel ilmiah Effect of Fruit Maturity and Extraction Treatment on Germination Percentage of Langusei (Ficus minahassae (Teysm.et.Vr.) Miq)) karya Arif Irawan Irawan, Iwanuddin Iwanuddin Iwanuddin, Jafred Elsjoni Halawane Jafred dan Fuad Muhammad Fuad, terbit di Jurnal Wasian Vol. 7 No. 2 (2020). Artikel lengkapnya dapat dibaca gratis di situs Jurnal Wasian.
Kutip artikel aslinya (APA 7):
Irawan, A. I., Iwanuddin, I. I., Jafred, J. E. H., & Fuad, F. M. (2020). Effect of Fruit Maturity and Extraction Treatment on Germination Percentage of Langusei (Ficus minahassae (Teysm.et.Vr.) Miq)). Jurnal Wasian, 7(2), 103–109. https://doi.org/10.62142/qm2s0687
Jika Anda memakai temuan penelitian ini dalam tugas, skripsi atau tulisan lain, kutip artikel aslinya di atas, bukan berita ini. Artikel asli berlisensi CC BY-NC 4.0.
No comments yet. Be the first to comment!