Gambar: sampul artikel, dari Ivan (2020), Jurnal Wasian, lisensi CC BY-NC 4.0.
Tim peneliti dari Divisi Mikologi, Departemen Biologi, Institut Pertanian Bogor mencatat lima jenis jamur liar yang dikonsumsi dan diperdagangkan masyarakat di Pulau Belitong, Provinsi Bangka Belitung. Kelima jamur itu adalah kulat pelandok (Amanita sect. caesarea), kulat pelawan (Heimioporus sp.), kulat tiong (Hygrocybe cf. conica), kulat sukatan (Phylloporus sp.), dan kulat sawit (Volvariella sp.). Penelitian ini dilakukan pada 2018–2019 dan dipublikasikan di Jurnal Wasian.
Jamur-jamur itu bukan sekadar makanan tambahan. Masyarakat setempat menjualnya, sehingga menjadi komoditas musiman yang penting bagi pendapatan warga. Menurut penelitian ini, kulat pelawan punya harga jual paling tinggi dibandingkan jamur lainnya. Temuan itu menunjukkan jamur ini berpeluang besar untuk dikembangkan ke tahap budidaya. Tiga dari lima jamur tersebut hidup bersimbiosis dengan pohon: kulat pelandok dengan puspa (Schima wallichii) dan kulat pelawan dengan pelawan (Tristaniopsis merguensis). Sementara itu, pohon inang kulat sukatan belum diketahui pasti.
Karena itu, penelitian ini menekankan pentingnya menjaga pohon-pohon inang jamur tersebut. Jika pohonnya hilang, jamur yang bernilai ekonomi itu juga terancam. Bagi masyarakat sekitar hutan di Belitong, menjaga puspa dan pelawan berarti menjaga sumber penghasilan musiman mereka.
Sumber dan cara mengutip
Berita ini ditulis dari artikel ilmiah The Potency of Some Wild Edible Mushrooms with Economic Value in Belitong Island, The Province of Bangka Belitung karya Ivan Permana Putra Ivan, terbit di Jurnal Wasian Vol. 7 No. 2 (2020). Artikel lengkapnya dapat dibaca gratis di situs Jurnal Wasian.
Kutip artikel aslinya (APA 7):
Ivan, I. P. P. (2020). The Potency of Some Wild Edible Mushrooms with Economic Value in Belitong Island, The Province of Bangka Belitung. Jurnal Wasian, 7(2), 121–135. https://doi.org/10.62142/bj56zg91
Jika Anda memakai temuan penelitian ini dalam tugas, skripsi atau tulisan lain, kutip artikel aslinya di atas, bukan berita ini. Artikel asli berlisensi CC BY-NC 4.0.
No comments yet. Be the first to comment!